Senin, 24 Februari 2020

Tugas Publikasi Ilmia - Menulis artikel bebas dengan 5 referensi


            Di zaman sekarang mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Internet of Thing (IoT). Pada era revolusi industri 4.0 seperti sekarang IoT sudah mulai menyebar luas dan semakin berkembang, banyak industri - industri atau individual yang mulai memanfaatkan IoT untuk meringankan kerjanya atau untuk meningkatkan produk yang dibuat.

            Menurut Prof.Dr.Ir. Suhono Harso Supangkat M.Eng., Guru Besar pada KK Teknologi Informasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatik ITB, potensi IoT di Indonesia sangatlah besar. Namun tentu saja, selain ada peluang juga ada tantangan yang harus dihadapi, misalnya masalah pemerataan infrastruktur jaringan dan kondisi geografi. “Indonesia saat ini sedang gencar-gencarnya dalam pengembangan IoT sebagai salah satu wujud dari rencana Making Indonesia 4.0, di mana dengan IoT, setiap hal bisa saling berkoneksi atau terhubung satu sama lainnya. Penerapan IoT di Indonesia bisa diterapkan dalam aspek transportasi, mobil listrik, kesehatan, dan lingkungan.” kata Prof. Suhono diwawancara Humas ITB belum lama ini.1


Dia menerangkan, ada sejumlah kompenen dalam pengembangan IoT yang sangat berpengaruh, pertama adalah manusia atau SDM. Komponen ini mencakup SDM yang mampu mendukung pengembangan IoT, dampak IoT bagi dunia kerja di masa depan, dan perubahan budaya yang diakibatkan oleh kehadiran IoT. Kemudian yang kedua adalah teknologi. Komponen ini mencakup bagaimana benda-benda seperti sensor, cloud, platform, robot dan lainnya terhubung melalui protokol dan algoritma tertentu. Dan ketiga adalah tata kelola. Dalam aspek ini komponennya mencakup regulasi, model bisnis, dan pengembangan peran antar masing-masing pihak yang berkepentingan dalam pengembangan IoT di Indonesia.1

Salah satu contohnya adalah penerapan e-tilang di Surabaya. Pekerjaan polisi untuk memberikan tilang pada pengendara yang melakukan pelanggaran telah terbantu dengan adanya e-tilang tersebut. Jika dulu kita melihat polisi di sekitaran lampu merah yang bertugas mengamankan supaya tidak ada lagi pelanggaran, sekarang hanya tinggal memantaunya melalui cctv yang terpasang pada lampu merah kemudian terhubung ke layar di ruang pusat kendali transportasi UPT SITS.

Secara singkat, cara kerja dari kamera cctv ini cukup sederhana. Ketika lampu menyala merah maka sensor akan merespon dan mengaktifkan cctv untuk merekam apakah ada pelanggaran. "Semua ini sistem yang bekerja. Kami tinggal mendata saja. Begitu ada pelanggaran, kami lakukan pendataan dan meneruskannya ke bagian penegakan hukum (Gakum) Satlantas Polrestabes Surabaya. Selanjutnya mereka yang mengambil tindakan. Prosesnya juga cepat. Hanya dua hari surat tilang sudah sampai ke alamat tujuan," jelas Kepala Bidang Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Robben Rico.2

Meskipun masih ada beberapa hal lagi yang harus disempurnahkan akan tetapi penerapan e-tilang di Surabaya ini memberikan beberapa perubahan pada pengendara di jalan raya. Seperti, sekarang pengendara sudah mulai tertip dalam berkendara, bukan di saat ada polisi yang berjaga tetapi setiap saat para pengendara sudah mulai tertib.

Contoh lain yang baru diluncurkan lagi yaitu Smart SIM. Smart SIM muncul untuk menggantikan sim model lama. Pada Smart SIM terdapat sebuah chip yang tidak ada pada SIM model lama. Smart SIM telah dilengkapi dengan ragam fitur canggih. Smart SIM memuat data pelanggaran hingga data kecelakaan si pengguna. Bahkan, SIM ini memiliki fungsi uang elektronik yang bisa digunakan untuk membayar tol, parkir ataupun sebagai alat transaksi saat berbelanja. Pengisian saldo maksimal di Smart SIM itu sebesar Rp 2 juta.3

Pada Smart SIM tersimpan data pribadi kita yang sudah kita isi pada form pengajuan, data lengkap kita disimpan pada suatu server dan untuk mengaksesnya menggunakan chip yang ada pada Smart SIM kita. Dan yang paling bagus menurut penulis adalah Smart SIM ini memuat data pelanggaran dan kecelakaan yang melibatkan kita. Jika Smart SIM di gabungkan dengan E-Tilang di Surabaya, maka akan mempermudah sekali tugas dari pak polisi dan akan memberikan rasa was-was kepada pengendara ketika akan melanggar rambu lalu lintas. Jika keduanya sudah berjalan bersamaan bukan tidak mungkin akan menciptakan suasana berkendara yang aman dan kondusif seperti di beberapa negara lain.

Untuk keamanan dari data diri kita, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Refdi Andri pun memastikan keamanan data-data tersebut "Kita harus tahu betul siapa yang kita layani, jadi forensik kepolisian tercatat dan terdatakan dengan lebih baik di server kita. Itu juga aman, tidak bisa dibuka, tidak bisa dilihat dan tidak bisa dibongkar oleh siapa pun, terkunci dengan aman, rapi, dan kuat," ujar pak Refdi Andri.

Dua contoh di atas menunjukan bahwa Indonesia sudah mulai menuju ke Indonesia maju dengan memanfaatkan perkembangan Internet of Thing (IoT) di bidang lalu lintas. Untuk bidang industri 4.0 negara kita sudah memulainya dengan membangun infrastruktur digital nasional. Menurut Airlangga Hartarto ”Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan pengguna internet tertinggi di dunia, yang mencapai 143,26 juta orang atau lebih dari 50 persen total penduduk di Indonesia. Aspirasi besarnya adalah optimisme masa depan, dengan target pada tahun 2030, Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia. Dengan catatan, produktivitas naik dua kali lipat, nett ekspor mencapai 10 persen, dan anggaran riset hingga dua persen”.5





REFERENSI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar