Di zaman sekarang mungkin kita sudah
tidak asing lagi dengan yang namanya Internet of Thing (IoT). Pada era revolusi
industri 4.0 seperti sekarang IoT sudah mulai menyebar luas dan semakin
berkembang, banyak industri - industri atau individual yang mulai memanfaatkan
IoT untuk meringankan kerjanya atau untuk meningkatkan produk yang dibuat.
Menurut Prof.Dr.Ir. Suhono Harso
Supangkat M.Eng., Guru Besar pada KK Teknologi Informasi, Sekolah Teknik
Elektro dan Informatik ITB, potensi IoT di Indonesia sangatlah besar. Namun
tentu saja, selain ada peluang juga ada tantangan yang harus dihadapi, misalnya
masalah pemerataan infrastruktur jaringan dan kondisi geografi. “Indonesia saat
ini sedang gencar-gencarnya dalam pengembangan IoT sebagai salah satu wujud dari
rencana Making Indonesia 4.0, di mana dengan IoT, setiap hal bisa saling
berkoneksi atau terhubung satu sama lainnya. Penerapan IoT di Indonesia bisa
diterapkan dalam aspek transportasi, mobil listrik, kesehatan, dan lingkungan.”
kata Prof. Suhono diwawancara Humas ITB belum lama ini.1
Dia
menerangkan, ada sejumlah kompenen dalam pengembangan IoT yang sangat
berpengaruh, pertama adalah manusia atau SDM. Komponen ini mencakup SDM yang
mampu mendukung pengembangan IoT, dampak IoT bagi dunia kerja di masa depan,
dan perubahan budaya yang diakibatkan oleh kehadiran IoT. Kemudian yang kedua
adalah teknologi. Komponen ini mencakup bagaimana benda-benda seperti sensor,
cloud, platform, robot dan lainnya terhubung melalui protokol dan algoritma
tertentu. Dan ketiga adalah tata kelola. Dalam aspek ini komponennya mencakup
regulasi, model bisnis, dan pengembangan peran antar masing-masing pihak yang
berkepentingan dalam pengembangan IoT di Indonesia.1
Salah
satu contohnya adalah penerapan e-tilang di Surabaya. Pekerjaan polisi untuk
memberikan tilang pada pengendara yang melakukan pelanggaran telah terbantu
dengan adanya e-tilang tersebut. Jika dulu kita melihat polisi di sekitaran
lampu merah yang bertugas mengamankan supaya tidak ada lagi pelanggaran,
sekarang hanya tinggal memantaunya melalui cctv yang terpasang pada lampu merah
kemudian terhubung ke layar di ruang pusat kendali transportasi UPT SITS.
Secara
singkat, cara kerja dari kamera cctv ini cukup sederhana. Ketika lampu menyala
merah maka sensor akan merespon dan mengaktifkan cctv untuk merekam apakah ada
pelanggaran. "Semua ini sistem yang bekerja. Kami tinggal mendata saja.
Begitu ada pelanggaran, kami lakukan pendataan dan meneruskannya ke bagian
penegakan hukum (Gakum) Satlantas Polrestabes Surabaya. Selanjutnya mereka yang
mengambil tindakan. Prosesnya juga cepat. Hanya dua hari surat tilang sudah
sampai ke alamat tujuan," jelas Kepala Bidang Rekayasa Lalu Lintas Dinas
Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Robben Rico.2
Meskipun
masih ada beberapa hal lagi yang harus disempurnahkan akan tetapi penerapan
e-tilang di Surabaya ini memberikan beberapa perubahan pada pengendara di jalan
raya. Seperti, sekarang pengendara sudah mulai tertip dalam berkendara, bukan
di saat ada polisi yang berjaga tetapi setiap saat para pengendara sudah mulai
tertib.
Contoh
lain yang baru diluncurkan lagi yaitu Smart SIM. Smart SIM muncul untuk
menggantikan sim model lama. Pada Smart SIM terdapat sebuah chip yang tidak ada
pada SIM model lama. Smart SIM telah dilengkapi dengan ragam fitur canggih.
Smart SIM memuat data pelanggaran hingga data kecelakaan si pengguna. Bahkan,
SIM ini memiliki fungsi uang elektronik yang bisa digunakan untuk membayar tol,
parkir ataupun sebagai alat transaksi saat berbelanja. Pengisian saldo maksimal
di Smart SIM itu sebesar Rp 2 juta.3
Pada
Smart SIM tersimpan data pribadi kita yang sudah kita isi pada form pengajuan,
data lengkap kita disimpan pada suatu server dan untuk mengaksesnya menggunakan
chip yang ada pada Smart SIM kita. Dan yang paling bagus menurut penulis adalah
Smart SIM ini memuat data pelanggaran dan kecelakaan yang melibatkan kita. Jika
Smart SIM di gabungkan dengan E-Tilang di Surabaya, maka akan mempermudah
sekali tugas dari pak polisi dan akan memberikan rasa was-was kepada pengendara
ketika akan melanggar rambu lalu lintas. Jika keduanya sudah berjalan bersamaan
bukan tidak mungkin akan menciptakan suasana berkendara yang aman dan kondusif
seperti di beberapa negara lain.
Untuk
keamanan dari data diri kita, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri
Irjen Refdi Andri pun memastikan keamanan data-data tersebut "Kita harus
tahu betul siapa yang kita layani, jadi forensik kepolisian tercatat dan
terdatakan dengan lebih baik di server kita. Itu juga aman, tidak bisa dibuka,
tidak bisa dilihat dan tidak bisa dibongkar oleh siapa pun, terkunci dengan
aman, rapi, dan kuat," ujar pak Refdi Andri.
Dua
contoh di atas menunjukan bahwa Indonesia sudah mulai menuju ke Indonesia maju
dengan memanfaatkan perkembangan Internet of Thing (IoT) di bidang lalu lintas.
Untuk bidang industri 4.0 negara kita sudah memulainya dengan membangun
infrastruktur digital nasional. Menurut Airlangga Hartarto ”Indonesia juga
menjadi salah satu negara dengan pengguna internet tertinggi di dunia, yang
mencapai 143,26 juta orang atau lebih dari 50 persen total penduduk di
Indonesia. Aspirasi besarnya adalah optimisme masa depan, dengan target pada
tahun 2030, Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian
terkuat di dunia. Dengan catatan, produktivitas naik dua kali lipat, nett
ekspor mencapai 10 persen, dan anggaran riset hingga dua persen”.5
REFERENSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar